Halaman

Kamis, 03 Juli 2025

Seraphim. Part II

 Hari ke-200 sejak Oru pertama kali turun ke bumi.

Perlawanan manusia telah tumbuh. Senjata dikumpulkan, barikade dibangun, strategi disusun. Manusia mulai mempelajari cara membunuh Voidling. Peluru tajam, api, bahkan semburan asam—semuanya bisa membunuh makhluk itu. Dan mereka mulai menang… sedikit.

Tapi untuk setiap Voidling yang mati, sepuluh muncul menggantikan. Mereka seperti kabut: tak bisa dihentikan, tak bisa dihindari.

Namun bukan itu yang paling mengerikan.

Yang paling mengerikan adalah—prosesnya.

Voidling tak hanya membunuh. Mereka membungkus. Menyanyikan lagu, menenangkan jiwa, meninabobokan harapan. Dan mereka yang tersentuh lagu itu akan datang dengan sukarela, menyerahkan tubuhnya, membiarkan diri dibalut benang kosmik menjadi kepompong.

Namun terkadang, proses itu terganggu. Seseorang menembak Voidling saat proses pembungkusan tengah berlangsung. Atau ada ledakan yang membuat benang kosmik putus. Saat itulah… mereka yang hampir menjadi Voidling namun gagal, berubah.

Seorang tentara—salah satu yang pertama—mengalami hal itu. Ia hampir terbungkus, lalu rekannya membunuh Voidling tersebut untuk menyelamatkannya. Yang terjadi selanjutnya adalah teror: Tentara itu berteriak. Tapi bukan teriakan manusia. Itu seperti suara dari kedalaman lautan yang berkarat. Ia menangis, tertawa, memukul wajahnya sendiri, mencakar kulit, menancapkan pisau ke tubuhnya. Matanya kosong. Tapi tubuhnya penuh rasa yang tidak bisa dijelaskan. Ia akhirnya mati. Tapi tidak seperti manusia.

Fenomena itu membuat semua pasukan gentar. Mereka mulai bingung, apakah menyelamatkan berarti membunuh? Apakah membiarkan berarti mengampuni?

Dan Oru… tetap diam di tempatnya. Namun jika ia merasa terlalu banyak Voidling mati di satu tempat, maka dari jauh—satu bola hitam akan datang. Dan tidak akan ada yang tersisa.

Manusia mulai meragukan perang ini. Beberapa menyerah. Beberapa menyerahkan diri. Dan beberapa… masih bertahan.

Hari ke-500 sejak Oru turun ke bumi.

Tak ada lagi yang mempertanyakan siapa dia. Tak ada lagi yang mencoba berdialog. Semua sudah tahu: jika suara lagu mulai terdengar, meski samar, maka itu berarti satu hal—Voidling sedang mendekat.

Manusia tidak saling mencurigai. Tidak perlu. Karena tidak ada manusia yang dikendalikan oleh Oru atau Voidling. Tidak ada pengkhianat. Tidak ada mata-mata. Musuh mereka nyata, dan murni: Voidling, dan sang Oru.

Oru sendiri masih duduk di tempat pertama ia muncul. Tidak bergerak. Namun dari sana, ia dapat melihat seluruh dunia. Setiap Voidling yang mati, ia ketahui. Setiap perlawanan, ia sadari. Dan untuk setiap pemberontakan, satu bola hitam dikirimkan. Jauh. Akurat. Mematikan.

Dunia sudah tidak lagi seperti dulu. Kota-kota berubah menjadi hutan liar. Bangunan runtuh diselimuti bunga-bunga liar yang tumbuh dari langkah Voidling. Jalan-jalan dilapisi karpet rumput. Tanah yang dulu mati kini hidup kembali—namun bukan untuk manusia.

Manusia bersembunyi di terowongan, bunker, reruntuhan. Mereka membentuk koloni-koloni kecil. Komunitas bertahan hidup. Sekelompok kecil manusia yang mencoba hidup dengan satu prinsip: hindari lagu itu.

Namun Voidling bukan sekadar pemburu. Mereka penyanyi. Dan lagu mereka—semakin banyak Voidling berkumpul, semakin merdu, semakin kuat, semakin tak tertahankan.

Mereka tidak berteriak. Mereka tidak menyerang duluan. Mereka hanya berjalan perlahan, menyanyikan lagu yang terdengar seperti bisikan kasih dari langit.

Dan jika kau tidak segera menjauh, maka… kepompong akan menanti.

Hari ke-777.

Tiga pasang kaki kecil, satu pasang kaki besar, dan empat tapak kaki berbulu berjalan perlahan di antara salju. Mereka berjalan tanpa suara. Tak ada keluhan. Tak ada tangisan. Yang terdengar hanya desir angin dan salju yang mengeras di bawah sepatu mereka.

Seorang pria—ayah—berjalan paling depan. Di belakangnya, dua anak perempuan: satu berusia delapan tahun, satu lagi lima belas. Di sisi mereka, seekor anjing besar berwarna coklat tua, dengan mata setia yang terus menatap ke depan.

Mereka bukan pelarian pertama. Tapi mereka adalah sedikit dari yang tersisa.

Tujuan mereka: Alaska. Tempat yang konon masih menyimpan manusia. Tempat yang konon memiliki harapan. Tak ada yang tahu apakah itu nyata. Namun jika tidak ada harapan, apa lagi yang bisa mereka miliki? Langit di atas mereka pucat. Putih. Dingin. Tanpa suara. Tanpa lagu. Dan itu… membuat mereka tenang.

Tapi tidak untuk lama.

Langkah-langkah bunga dan akar mulai muncul di kejauhan. Dan di antara salju yang putih, satu makhluk muncul perlahan. Voidling.

Ia berjalan tanpa tergesa. Bernyanyi tanpa suara. Dan bunga-bunga mulai tumbuh dari salju, membentuk jalur seperti karpet indah. Ayah berdiri di depan anak-anaknya. Anjing mereka menggeram pelan. Anak-anak menggenggam tangan ayah mereka lebih erat.

Perjalanan belum usai. Tapi kematian… selalu menunggu di balik keindahan.

Seraphim. Part I

Dunia sudah terlalu banyak rusak. ini sudah terlalu lama menjerit. Udara dipenuhi debu kebencian, tanah penuh darah, dan hati manusia sekeras baja. Seorang pria—sebut saja Raka—berlari tergesa menuju kantornya. Ia terlambat. Lagi. Tapi pagi itu, waktu terasa tak pentingluka yang tak sembuh, dan jiwa manusia kian hari makin menyerupai baja: dingin, keras, dan tak lagi bergema.

Saat ia duduk, napas masih terengah, ia sadar… semua orang berdiri menatap ke luar jendela. Di antara kesibukan pagi yang seperti biasa, seorang pria bernama Raka berlari tergesa menuju kantornya. Ia terlambat. Lagi. Tapi pagi itu, waktu terasa tak penting. Langkahnya terhenti ketika tiba di lantai kerjanya. Semua rekan kerjanya berdiri mematung, menghadap ke jendela yang menghadap kota. Mereka membisu. Beberapa menganga. Ada pula yang mulai menangis.

"Ada apa?" gumamnya, lalu ia menoleh juga.

Raka ikut menoleh. Dan di sanalah dia melihatnya.

Langit… terbuka. Bukan oleh cahaya. Tapi oleh sosok.

Satu sosok. Jauh di langit. Terlalu besar untuk disebut manusia, terlalu tenang untuk disebut ancaman. Tingginya seperti menantang cakrawala. Ia duduk bersila, melayang di atas pusat kota. Tubuhnya kurus kering, bagaikan tulang yang dibalut kulit keabu-abuan.

Sosok tinggi, kurus, duduk bersila namun melayang. Wajahnya kosong, tak berfitur, namun di sanalah terekam gambaran kosmik: galaksi yang perlahan berputar, bintang-bintang mati, dan kehampaan yang berbicara dalam diam. Di punggungnya, menyala simbol yang tak dikenalWajahnya… tidak ada. Tak ada mata, hidung, bibir. Hanya permukaan datar yang menampilkan gambaran kosmik: pusaran galaksi yang bergerak perlahan, kilatan bintang yang padam dan menyala, dan kehampaan yang menghisap pandangan.

Namanya—tak diberi oleh manusiaDi punggungnya, bercahaya samar sebuah simbol. Tak dikenal. Tak bisa dijelaskan. Tapi seolah menyatu dengan langit.

Ia menyebut dirinya: Oru. Tidak berbicara. Ia tidak bergerak. Tapi kehadirannya… menggetarkan nadi semesta.Tak lama kemudian, langit mulai menyanyikan lagu. Nada tenang, lembut, sejuk. Membungkus setiap celah kota. Membelai jiwa. Dan satu demi satu, manusia mulai jatuh diam. Tidak tidur. Tidak pingsan. Mereka hanya... tunduk.

Sosok itu tidak memberi nama. Namun kemudian, suara muncul dalam pikiran semua makhluk hidup, serempak, lembut seperti bisikan alam:

“Oru.”

Raka duduk. Tangannya bergetar pelan. Sementara sekelilingnya—kolega, teman, orang-orang asing yang ia tak pernah sapa lebih dari sepatah kata—semuanya berdiri mematung, mata mereka masih tertuju ke luar jendela.Di luar, Oru melayang. Diam. Tak bergerak. Namun dari dirinya, sebuah lagu mengalun—merambat ke seluruh penjuru kota.

Nada itu lembut, mendalam, dan menghipnotis. Lagu tanpa bahasa, namun semua jiwa seperti memahaminya. Lagu itu tidak hanya terdengar, tapi terasa. Merambat dalam dada, membelai nadi, masuk ke sela-sela pikiran, membisiki bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Beberapa karyawan mulai menangis. Bukan karena takut. Tapi karena keindahan yang menyesakkan. Mata mereka berkaca, senyum samar terbit di wajah mereka. Ada yang bersimpuh, ada yang menadahkan tangan ke langit seolah baru saja melihat ilahi.

Namun Raka... masih bisa bergerak. Masih sadar. Hatinya berdegup kencang. Sejuk itu terasa palsu.

Dan kemudian...

Ia melihatnya.

Makhluk-makhluk kecil mulai berjalan keluar dari bawah tubuh Oru. Tubuh mereka tipis seperti ranting kering, tak memiliki wajah, dan kulitnya seakan tersusun dari jalinan akar dan cahaya. Mereka melangkah perlahan, dan setiap langkah menumbuhkan rumput serta bunga-bunga yang luar biasa indah.

Makhluk itu bernyanyi. Lagu yang sama. Nada yang sama. Dan kota mulai terisi oleh mereka.

"Apa itu…?" bisik Raka.

Orang-orang di luar mulai berjalan pelan. Mata kosong, wajah damai. Mereka mendekati Voidling seperti mendekati kekasih lama.

Voidling membuka tangannya. Dan dari tubuh mereka, muncul semacam benang kosmik. Benang itu menyelimuti manusia yang datang, membungkus tubuh mereka perlahan, seperti kepompong.

Raka mundur. Menabrak meja. Napasnya pendek.

Orang-orang di kantor mulai bergerak menuju pintu keluar. Termasuk atasannya. Teman kerjanya. Semua. Ia berteriak, "Berhenti! Hei!"

Tak ada yang menjawab.

Raka lari. Ia tidak sendiri. Beberapa orang juga tidak terpengaruh sepenuhnya. Mereka menangis, menjerit, dan berlari menjauh dari pusat kota.

Tapi Voidling menyebar.

Dan Oru… membuka matanya. Bukan, bukan mata sungguhan. Tapi pusaran kosmik di wajahnya mulai menyala. Ia mengangkat tangannya perlahan.

Langit menghitam. Dan dari langit, sebuah bola hitam jatuh.

Gedung-gedung hancur. Tanah terbelah. Jalan-jalan berubah menjadi kawah besar. Tapi anehnya—kepompong-kepompong itu tetap utuh.

Dari dalam kepompong, lahir Voidling baru.

Dan akhirnya… tak ada yang selamat.

Tidak ada catatan. Tidak ada laporan. Tidak ada siaran berita. Hanya dua pilihan: Menjadi Voidling, atau mati.

Dan Raka… tidak sempat memilih.