“Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.” Albert Einstein
Jumat, 14 Maret 2014
APA ITU BAHAGIA ?
Hallo gan, saya disini sebenarnya sedang bingung "Apa itu bahagia? bagaimana cara kita mendapatkan kebahagiaan?". Pertanyaan itu yang membuat saya penasaran apa sebenarnya kebahagiaan itu.
Oke, saya akan mulai dari definisi dari bahagia. Beberapa orang mendefinisikan bahagia berbeda beda. Ini adalah beberapa definisi tentang bahagia yang saya dapatkan setelah bertanya kepada teman teman saya :
"Bahagia itu ketika seseorang memiliki semua yang dia butuhkan di kehidupannya."
"Bahagia itu ketika kita melihat orang yang kita sayang bahagia."
"Bahagia adalah perasaan yang timbul akibat seseorang mendapatkan sesuatu yang sangat berharga atau yang sangat dia inginkan."
"Bahagia adalah suatu kesenangan atas ketercapaian individu yang telah dimiliki."
"Bahagia adalah suatu keadaan dimana keberadaanmu bisa membuat orang lain bahagia."
"Bahagia itu sesuatu yang tidak bisa kita dapatkan tapi kita rasakan."
"Bahagia adalah perasaan yang timbul ketika kita mensyukuri dan menikmati segala pemberian Allah kepada kita."
Mungkin masih banyak lagi definisi tentang bahagia. Tapi saya hanya menulis beberapa saja. Kalau menurut saya sendiri "Bahagia adalah perasaan yang timbul dari dalam diri sendiri karena sesuatu."
Dari semua definisi diatas, saya tidak akan bilang bahwa yang paling benar adalah definisi yang saya buat. Karena seperti yang saya bilang tadi setiap orang memiliki definisi tentang bahagia yang berbeda beda. Jadi, menurut saya semua definisi tentang bahagia itu benar.
Sekarang, setelah kita tahu definisi bahagia, bagaimana cara kita agar bahagia?. Tentu dari definisi di atas kita bisa mengambil kesimpulan bagaimana cara kita agar bahagia. Tapi di sini saya akan menjelaskan sedikit.
Cara agar kita bahagia adalah tergantung pada pribadi masing masing orang. Jadi kita tidak bisa menyalahkan ketika orang melakukan sesuatu yang menurut kita aneh, karena mungkin saja dengan melakukan itu dia bahagia.
Oke, mungkin itu dulu yang bisa saya sampaikan. Satu pesan dari saya "Jadilah orang yang bahagia".
Sabtu, 22 Februari 2014
Cerita Inspiratif tentang warisan
Warisan. Banyak orang yang tergila gila gila dengan warisan. Jika ada orang tua yang meninggal dunia, pasti akan meninggalkan warisan. Hal ini juga yang menimbulkan perdebatan atau permusuhan diantara saudara, siapa yang pantas mendapat warisan lebih banyak. Kali ini saya akan menceritakan sebuah kisah mengenai warisan. Simak ceritanya :)
Pada suatu hari disebuah kampung, terdapat sebuah keluarga yang mempunyai 3 orang anak. Mereka memiliki harta yang berkecukupan. Mereka juga punya 17 ekor kuda yang setiap hari selalu di gembala. Bisa dibilang mereka keluarga yang bahagia.
Suatu hari, Ibu dan Ayah mereka Mengalami Sakit yang cukup parah. Mereka terpaksa harus dirawat dirumah sakit. ke 3 anak mereka menjadi sedih. Siang dan malam, mereka bergantian merawat orang tuanya. Selain merawat orang tua, mereka juga bergantian mengembala kuda kuda mereka. Hari demi hari telah terlewati. Tetapi orang tua mereka tidak kunjung sembuh
Ibu : "Anak anakku, sepertinya ibu dan ayah tidak bisa bertahan lebih lama lagi."
Anak 2 : "Ibu tidak boleh berkata seperti itu! siapa yang akan merawat kami bertiga."
Ayah : "Tenang saja, ayah sudah menyuruh Ustad Putra untuk merawat kalian."
Ibu : "Ibu juga berpesan, tolong jaga 17 ekor kuda milik kita. Jika ingin dibagi, bagilah dengan adil."
Anak 1 : "Baik bu, kami akan membaginya dengan adil."
Anak 3 : "Ibu, Ayah, jangan tinggalkan kami."
Ayah : "Terima kasih, Anak anakku."
Malam itu juga, orang tua merekapun menghembuskan nafas terakhirnya. Beberapa hari setelah orang tua mereka meninggal, mereka membahas tentang harta warisan yaitu yang berupa 17 ekor kuda.
Anak 1 : "Baiklah, sekarang kita akan membagi warisan dari ibu dan ayah."
Anak 2 : "Aku harus dapat yang paling banyak."
Anak 1 : "Tidak bisa begitu. Aku anak pertama, jadi aku yang mendapat lebih banyak."
Anak 3 : "Seharusnya kalian mengalah kepada adiknya. Aku yang dapat lebih banyak."
Anak 1 : "Aku ini anak pertama, yang paling besar. Jadi, aku layak mendapat paling banyak."
Anak 2 : "Itu tidak adil."
Mereka bertiga saling tidak mau mengalah dan menginginkan yang paling banyak. Akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya kepada Ustad Putra.
Anak 1 : "Ustad, kami ingin bertanya kepada anda."
Ustad : "Mau tanya apa?"
Anak 1 ; "Begini, ketika orang tua kami meninggal, mereka meninggalkan warisan berupa 17 kuda."
Ustad : "Terus masalahnya apa?"
Anak 2 : "Kami minta bantuan kepada anda untuk membaginya."
Ustad : "Oh, begitu. baiklah saya bantu. Tapi, karena jumlah kudanya ganjil susah. Ini saya kasih satu lagi biar jadi 18 ekor."
Anak 3 : "Terima kasih banyak, ustad."
Ustad : "Sekarang akan saya bagi. Anak pertama mendapatkan 1/2 dari jumlah kuda, yaitu 9 ekor."
Ustad : "Anak kedua mendapat 1/3 dari jumlah kuda, yaitu 6 ekor."
Ustad : "Anak ketiga mendapat 1/9 dari jumlah kuda, yaitu 2 ekor."
Anak 1 : "Terima kasih, ustad. Tapi siapa yang mendapatkan kuda terakhir?
Ustad : "Ya buat Saya. Kalian sudah saya bantu membagi dengan adil, ya saya dapat bagian juga."
Dari cerita diatas, kita dapat mengambil banyak pelajaran. Diantaranya, dalam membagi atau melakukan sesuatu, kita disuruh berprilaku adil. Jangan mengutamakan egois diri sendiri. Apa yang dilakukan ustad tadi adalah salah satu prilaku yang adil. Dia juga pintar membagi kuda kuda tersebut agar semua merasa puas.
Masih banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Tapi, pada intinya janganlah karena masalah warisan membuat keluarga menjadi terpecah pecah.
Pada suatu hari disebuah kampung, terdapat sebuah keluarga yang mempunyai 3 orang anak. Mereka memiliki harta yang berkecukupan. Mereka juga punya 17 ekor kuda yang setiap hari selalu di gembala. Bisa dibilang mereka keluarga yang bahagia.
Suatu hari, Ibu dan Ayah mereka Mengalami Sakit yang cukup parah. Mereka terpaksa harus dirawat dirumah sakit. ke 3 anak mereka menjadi sedih. Siang dan malam, mereka bergantian merawat orang tuanya. Selain merawat orang tua, mereka juga bergantian mengembala kuda kuda mereka. Hari demi hari telah terlewati. Tetapi orang tua mereka tidak kunjung sembuh
Ibu : "Anak anakku, sepertinya ibu dan ayah tidak bisa bertahan lebih lama lagi."
Anak 2 : "Ibu tidak boleh berkata seperti itu! siapa yang akan merawat kami bertiga."
Ayah : "Tenang saja, ayah sudah menyuruh Ustad Putra untuk merawat kalian."
Ibu : "Ibu juga berpesan, tolong jaga 17 ekor kuda milik kita. Jika ingin dibagi, bagilah dengan adil."
Anak 1 : "Baik bu, kami akan membaginya dengan adil."
Anak 3 : "Ibu, Ayah, jangan tinggalkan kami."
Ayah : "Terima kasih, Anak anakku."
Malam itu juga, orang tua merekapun menghembuskan nafas terakhirnya. Beberapa hari setelah orang tua mereka meninggal, mereka membahas tentang harta warisan yaitu yang berupa 17 ekor kuda.
Anak 1 : "Baiklah, sekarang kita akan membagi warisan dari ibu dan ayah."
Anak 2 : "Aku harus dapat yang paling banyak."
Anak 1 : "Tidak bisa begitu. Aku anak pertama, jadi aku yang mendapat lebih banyak."
Anak 3 : "Seharusnya kalian mengalah kepada adiknya. Aku yang dapat lebih banyak."
Anak 1 : "Aku ini anak pertama, yang paling besar. Jadi, aku layak mendapat paling banyak."
Anak 2 : "Itu tidak adil."
Mereka bertiga saling tidak mau mengalah dan menginginkan yang paling banyak. Akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya kepada Ustad Putra.
Anak 1 : "Ustad, kami ingin bertanya kepada anda."
Ustad : "Mau tanya apa?"
Anak 1 ; "Begini, ketika orang tua kami meninggal, mereka meninggalkan warisan berupa 17 kuda."
Ustad : "Terus masalahnya apa?"
Anak 2 : "Kami minta bantuan kepada anda untuk membaginya."
Ustad : "Oh, begitu. baiklah saya bantu. Tapi, karena jumlah kudanya ganjil susah. Ini saya kasih satu lagi biar jadi 18 ekor."
Anak 3 : "Terima kasih banyak, ustad."
Ustad : "Sekarang akan saya bagi. Anak pertama mendapatkan 1/2 dari jumlah kuda, yaitu 9 ekor."
Ustad : "Anak kedua mendapat 1/3 dari jumlah kuda, yaitu 6 ekor."
Ustad : "Anak ketiga mendapat 1/9 dari jumlah kuda, yaitu 2 ekor."
Anak 1 : "Terima kasih, ustad. Tapi siapa yang mendapatkan kuda terakhir?
Ustad : "Ya buat Saya. Kalian sudah saya bantu membagi dengan adil, ya saya dapat bagian juga."
Dari cerita diatas, kita dapat mengambil banyak pelajaran. Diantaranya, dalam membagi atau melakukan sesuatu, kita disuruh berprilaku adil. Jangan mengutamakan egois diri sendiri. Apa yang dilakukan ustad tadi adalah salah satu prilaku yang adil. Dia juga pintar membagi kuda kuda tersebut agar semua merasa puas.
Masih banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Tapi, pada intinya janganlah karena masalah warisan membuat keluarga menjadi terpecah pecah.
Langganan:
Postingan (Atom)
