Halaman

Sabtu, 30 November 2013

Salah Paham

     Hallo gan, ketemu lagi !! kali ini saya akan kasih sebuah cerita tentang "Salah Paham". Banyak orang yang masih saja mempunyai masalah dengan orang lain hanya gara gara salah paham. Untuk itu, diperlukan hubungan yang baik antara kita dan orang lain. semoga dengan cerita ini, kita tidak lagi sering salah paham dengan orang lain. Cekidot...

      Disebuah desa nan jauh, hiduplah seorang yang sangat baik bernama Pak Ahmad. Selain baik, Pak Ahmad juga senang membantu orang lain. Meskipun kehidupannya pas pasan tidak menghalangi dia berbuat baik. Pagi itu Pak Ahmad pergi ke sawah bersama temannya.

Pak Ahmad : "pagi ini cerah sekali ya."
Pak Budi : "iya, eh mad. Saya ada kejaan buat kamu."
Pak Ahmad : "apa?"
Pak Budi : "kerja jadi sopir. Gajinya lumayan lho. Daripada kamu jadi petani terus, hasil panen tidak menentu."
Pak Ahmad : "okedeh. aku mau."
Pak Budi : "nah, gitu."

      Setelah hari itu, pak Ahmad bekerja menjadi sopir. 5 tahun kemudian, pak Ahmad berhasil menjadi saudagar kaya raya.Tapi dia tidak kehilangan sifat baik hatinya. dia tetap suka memberi. Bahkan sekarang dia lebih teratur membantu tetangganya. Suatu hari pak Ahmad jatuh sakit. Dia lalu dibawa ke rumah sakit.

Pak Ahmad : "Nak, tolong ayah carikan ustad."
Anak : "Baik, ayah."
(beberapa menit kemudian ustad datang)
Pak ustad : "Gimana kabarnya pak Ahmad?"
Pak Ahmad : "Baik pak."
Pak ustad : "saya dengar pak Ahmad memanggil saya. Ada apa?"
Pak Ahmad : "Begini, saya mohon pak ustad untuk mendoakan saya supaya.....hiiikksss...."
Anak : "Ada apa ayah?"
Pak ustad : "Sepertinya ayahmu sedang menghadapi sakaratul maut."

      Nafas Pak Ahmad seketika seperti termenggap menggap. Pak Ahmad lalu mengambil sebuah kertas dan menulis sesuatu. Kertas tersebut kemudian diberikan kepada Pak ustad. Tanpa pikir panjang, kertas tersebut dimasukkan kedalam peci. Akhirnya Pak Ahmad meninggal dunia. Semua orang diruangan itu sangat sedih melihat pak Ahmad yang baik hati meninggal.

Pak ustad : "Nak, sudahlah. Ayahmu orang yang baik. Dia pasti masuk surga karena kebaikannya."
Anak : "Terima kasih pak ustad."
Pak ustad : "oh, iya. ini ada surat wasiat dari Ayahmu."

       Anak Pak Ahmad lalu membuka surat tersebut. dan terkejutlah dia, ternyata isi surat tersebut sebagai berikut. "Pak ustad, jangan berdiri disitu. Kamu nginjak selang oksigenku." @#$@%^%#^$&#@$@$@$@

Oke, cukup sekian dulu. Ambil positifnya dari cerita diatas dan byee... :)

Senin, 19 Agustus 2013

syukuri hidup

Sekarang ini, banyak orang yang tidak mensyukuri hidup. Mereka bilang "saya bosan hidup" atau "tidak ada gunanya hidup lagi". Kali ini saya akan menceritakan sebuah kisah. Semoga bermanfaat...

      Disebuah desa, hiduplah seorang laki laki bernama Pak Budi. Dia merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi dan bosan hidup. Pak Budi lalu pergi ke seorang ustad.

Pakbudi : "Pak ustad, saya ini sudah bosan hidup. Istri saya belum bisa membahagiakan saya.                   Anak saya......"

      Pak budi lalu menceritakan masalahnya kepada si ustad.

Ustad : "Jadi kamu bosan hidup?"
Pak Budi : "Iya"
Ustad : "Kalau kamu bunuh diri akan masuk neraka. Tapi kalau saya yang membunuh, saya masuk .             neraka"
Pak Budi : "Lalu bagaimana?"
Ustad : "Kalau saya harus mengantar anda mati, saya tidak sanggup"

      Setelah mendengarkan perkataan ustad tadi, Pak Budi pulang ke rumah. Tetapi hanya berselang satu minggu, Pak Budi menemui ustad yang kedua. Sama seperti saat bertemu ustad yang pertama, dia menceritakan masalahnya yaitu bosan hidup.

Ustad : "Bosan hidup? kamu sayang tidak sama anak istrimu?"
Pak Budi : "Saya sayang, tetapi  sepertinya saya sudah tidak kuat untuk hidup."
Ustad : "Ya sudah. Itu keputusanmu, saya akan menolong. Ini saya beri minuman. Minuman yang                 airnya keruh kamu minum nanti sebelum tidur. Yang airnya jernih kamu minum besok                 ketika kamu akan mati."
Pak Budi : "Terima kasih pak ustad. Kalau yang hitam itu?"
Ustad : "Ini kopi buat saya bukan buat kamu"
Pak Budi : "Oh, maaf"

      Setelah sampai dirumah, Pak Budi langsung meminum air yang keruh. Dihabiskanlah minuman itu. Pak Budi merasa mengantuk lalu tertidur setelah meminum air tersebut. Pagi hari, Pak Budi terbangun. Dia langsung menyiapkan makanan untuk istri dan anaknya. Istrinya yang baru bangun terkejut melihat tingkah laku suaminya yang berubah.

Istri : "Maaf suamiku. Aku belum bisa membahagiakanmu"
Pak Budi : "Iya tidak apa apa"

      Semakin heranlah istrinya ketika melihat Pak Budi sebelum bekerja berjabat tangan dengannya, mencium kepala anak anaknya. Dikantor Pak Budi juga tidak seperti biasanya. Dia murah senyum, selalu menyapa teman teman dikantor, bahkan memberi sedikit uang kepada satpam kantor. Sepulang dari kantor, Pak Budi telah ditunggu oleh istri di depan rumah.

Istri : "Maaf suamiku. Aku belum bisa membahagiakanmu"
Pak Budi : "Iya, aku juga minta maaf"

      Tibalah saatnya Pak Budi untuk meminum minuman yang airnya jernih. Tetapi tiba tiba Pak Budi Berfikir

Pak Budi : "Kalau saya meminum ini, saya akan mati. Tapi bagaimana dengan nasib anak dan istri                       saya nanti?"
      Akhirnya Pak Budi mengurungkan niatnya untuk meminum pada malam itu. Keesokan harinya Pak Budi Menemui ustad yang kedua. Dia berkata

Pak Budi : "Pak ustad, saya sebetulnya ingin meminum air ini. Tapi perasaan saya hari ini itu seperti                      lebih tenang. Saya lalu tidak jadi minum. Bagaimana ini?"
Ustad : "Sebetulnya kamu ini menderita penyakit kurang silaturahmi. Kamu merasa dijauhi oleh                       orang sekitar. Padahal yang membuat jauh adalah kamu sendiri. Oleh karena itu kamu harus                 lebih meningkatkan silaturahmi. Selain itu, supaya hidupmu berharga, kamu harus menjalani               hidup seperti itu adalah hidupmu yang terakhir."
Pak Budi : "Jadi begitu. Saya harus lebih memperbaiki diri."
Ustad : "Bagus itu. sekarang minum air jernih yang aku berikan kemarin."
Pak Budi : "Apa? Kalau saya minum, saya akan mati ustad !!!"
Ustad : "Sudah minum saja. Dibagi dua, saya juga ikut minum"

      Mereka berdua lalu meminum bersama air jernih tersebut.

Pak Budi : "Kok rasanya kayak air putih, ustad?"
Ustad : "Lho, emang itu air putih biasa. Memang kamu kira apa?"

Dari cerita tersebut kita bisa mengambil hikmah bawa "Jalani Hiduplah seperti kamu akan mati hari ini" serta "Syukuri hidup yang kita jalani, Jangan banyak mengeluh". Next, Saya akan memposting cerita yang mengandung makna berikutnya.... :)